Tampilkan postingan dengan label Tugas PAI2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas PAI2. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Maret 2010

Pendidikan Agama Islam

Filsafat dalam Islam

PENDAHULUAN
Filsafat berasal dari bahasa arab falsafah yang diturunkan dari bahasa yunani philisophia, artinya cinta kepada pengetahuan atau cinta pada kebenaran. Orang yang cinta pada pengetahuan atau kebenaran disebut philosophos, atau failosuf dalam bahasa arab, filusuf dalam bahasa Indonesia. Filsafat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), artinya pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya, sedang falsafah maknanya anggapan, pandangan hidup, gagasan dan sikap batin yang paling umum yang dimiliki oleh manusia. Filsafat secara umum dapat diartikan sebagai pemikiran rasional, kritis, sistematis dan radikal tentang suatu obyek. Bila obyek pemikiran filsafat adalah agama dan ajaran islam maka lahirlah filsafat islam. Filsafat islam adalah pemikiran rasional, kritis, sistematis dan radikal tentang aspek-aspek agama dan ajaran islam.

FILSAFAT DALAM ISLAM
Pengertian filsafat islam seperti yang sudah disebutkan diatas telah ada bersamaan dengan sejarah pemikiran umat islam. Al-Quran sejak semula telah memerintahkan manusia untuk menggunakan akalnya, khususnya untuk menyingkap rahasia alam semesta yang akan mengantarkan manusia kepada keyakinan tentang adanya tuhan yang menciptakan dan memeliharanya. Keyakinan akan adanya Tuhan harus didasarkan atas kesadaran akal, bukan sekedar kesadaran yang bersifat tradisional yakni melestarikan warisan nenek moyang betapapun corak dan konsepnya (Ahmad Azhar Basyir, 1993:17).
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filusuf-filusuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan.'
Sangat banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia menggunakan akalnya untuk berpikir, diantaranya terdapat pada : QS Ali Imran ayat 90, QS Ar Rum ayat 8 dan 21. Akal yang diberi tempat tertinggi di dalam agama islam, mendorong kaum muslimin mempergunakannya untuk memahami ajaran islam dengan penalaran rasional, sejauh ajaran itu menjadi wewenang akal untuk memikirkannya. Pada hakikatnya umat islam telah berfilsafat sejak mereka menggunakan penalaran rasional dalam memahami agama dan ajaran islam. Penalaran rasional dalam memahami ajaran islam adalah mempergunakan akal pikiran untuk berijtihad sebagaimana disebutkan dalam hadits (Ahmad Azhar Basyir, 1993:18-19).
Filsafat islam muncul bersamaan dengan munculnya filosof muslim pertama, Al-Kindi pada pertengahan abad IX M, para filosof muslim yang berfilsafat mendasarkan pemikirannya pada Al-Quran dan Hadis dan memandang kebenaran Al-Quran dan Hadis di atas segala kebenaran yang didasarkan pada akal manusia semata. Para filosof mempergunakan Al-Quran dan Hadis sebagai dasar dan bingkai pemikiran, dapatlah disebut bahwa hasil pemikiran mereka adalah filsafat islam atau filsafat dalam islam (Ensiklopedi Islam Indonesia, 1992:232).

LINGKUP FILSAFAT ISLAM
Berbeda dengan lingkup filsafat modern, filsafat Islam, sebagaimana yang telah dikembangkan para filosof agungnya, meliputi bidang-bidang yang sangat luas, seperti logika, fisika, matematika dan metafisika yang berada di puncaknya. Seorang filosof tidak akan dikatakan filosof, kalau tidak menguasai seluruh cabang-cabang filosofis yang luas ini.
Ketika Ibn Sina menulis al-Syifa’, yang dipandang sebagai karya utama filsafatnya, ia tidak hanya menulis tentang metafisika, tetapi juga tentang logika, matematika dan fisika. Pembicaraan tentang lingkup filsafat Islam ini perlu dikemukakan, berhubung banyaknya kesalahpahaman terhadapnya, sehingga filsafat Islam dipahami hanya pada bidang metafisik. Kebanyakan kita hanya tahu Ibn Sina sebagai filosof, dan hanya mempelajari doktrin dan metode filsafatnya. Sedangkan Ibn Sina sebagai ahli kedokteran, ahli fisika, atau dengan kata lain sebagai saintis dan metode-metode ilmiah yang digunakanaanaya sama sekali luput dari perhatian kita. Jarang sekali, sarjana filsafat Islam di negeri ini yang pernah meneliti teori-teorinya tentang fisika, psikologi, atau geometri, astronomi dan musiknya. Tidak juga kedokterannya yang sangat dikenal di dunia Barat berkat karya agungnya al-Qanun fi al-Thibb. Hal ini terjadi, karena selama ini filsafat hanya dipahami sebagai disiplin ilmu yang mempelajari hal-hal yang bersifat metafisik, sehingga fisika, matematika, seolah dipandang bukan sebagai disiplin ilmu-ilmu filsafat.

PANDANGAN FILSAFAT YANG HOLISTIK
Satu hal lagi yang perlu didiskusikan dalam filsafat Islam ini adalah pandangannya yang bersifat integral-holistik. Integrasi ini, terjadi pada berbagai bidang, khususnya integrasi di bidang sumber ilmu dan klasifikasi ilmu. Filsafat Islam mengakui, sebagai sumber ilmu, bukan hanya penerapan indrawi, tetapi juga persepsi rasional dan pengalaman mistik. Dengan kata lain menjadikan indera, akal dan hati sebagai sumber-sumber ilmu yang sah. Akibatnya terjadilah integrasi di bidang klasifikasi ilmu antara metafisika, fisika dan matematika, dengan berbagai macam divisinya. Demikian juga integrasi terjadi di bidang metodologi dan penjelasan ilmiah. Karena itu filsafat Islam tidak hanya mengakui metode observasi, sebagai metode ilmiah, sebagaimana yang dipahami secara eksklusif dalam sains modern, tetapi juga metode burhani, untuk meneliti entitasentitas yang bersifat abstrak, ‘irfani, untuk melakukan persepsi spiritual dengan menyaksikan (musyahadah) secara langsung entitas-entitas rohani, yang hanya bisa dianalisa lewat akal, dan terakhir bayani, yaitu sebuah metode untuk memahami teks-teks suci, seperti al-Qur’an dan Hadits.
Oleh karena itu, filsafat Islam mengakui kebasahan observasi indrawi, nalar rasional, pengalaman intuitif, dan juga wahyu sebagai sumber-sumber yang sah dan penting bagi ilmu. Hal ini penting dikemukakan, mengingat selama ini banyak orang yang setelah menjadi ilmuwan, lalu menolak filsafat dan tasawuf dengan alasan tidak bermakna. Atau ada juga yang telah merasa menjadi filosof, lalu menyangkal keabsahan tasawuf, dengan alasan bahwa tasawuf bersifat irrasional. Atau ada juga yang telah merasa menjadi Sufi lalu menganggap tak penting filsafat dan sains. Dalam pandangan filsafat Islam yang holistik, ketiga bidang tersebut diakui sebagai bidang yang sah, yang tidak perlu dipertentangkan apa lagi ditolak, karena ketiganya merupakan tiga aspek dari sebuah kebenaran yang sama. Sangat mungkin bahwa ada seorang yang sekaligus saintis, filosof dan Sufi, karena sekalipun indera, akal dan hati bisa dibedakan, tetapi ketiganya terintegrasi dalam sebuah pribadi.

PERAN FILSAFAT ISLAM DALAM DUNIA MODERN
a. Menjawab Tantangan Kontemporer
Umat Islam telah dilanda berbagai persoalah ilmiah filosofis, yang datang dari pandangan ilmiah-filosofis Barat yang bersifat sekuler. Berbagai teori ilmiah, dari berbagai bidang, fisika, biologi, psikologi, dan sosiologi, telah, atas nama metode ilmiah, menyerang fondasi-fondasi kepercayaan agama. Tuhan tidak dipandang perlu lagi dibawa-bawa dalam penjelasan ilmiah. Misalnya bagi Laplace (w. 1827), kehadiran Tuhan dalam pandangan ilmiah hanyalah menempati posisi hipotesa. Ia mengatakan, sekarang saintis tidak memerlukan lagi hipotesa tersebut, karena alam telah bisa dijelaskan secara ilmiah tanpa harus merujuk kepada Tuhan. Baginya, bukan Tuhan yang telah bertanggung jawab atas keteraturan alam, tetapi adalah hukum alam itu sendiri. Jadi Tuhan telah diberhentikan sebagai pemelihara dan pengatur alam.

Demikian juga dalam bidang biologi, Tuhan tidak lagi dipandang sebagai pencipta hewan-hewan, karena menurut Darwin (w. 1881), munculnya spesies-spesies hewan adalah karena mekanisme alam sendiri, yang ia sebut sebagai seleksi alamiah (natural selection). Menurutnya hewan-hewan harus bertransmutasi sendiri agar ia dapat tetap survive, dan tidak ada kaitannya dengan Tuhan. Ia pernah berkata, “kerang harus menciptakan engselnya sendiri, kalau ia mau survive, dan tidak karena campur tangan sebuah agen yang cerdas di luar dirinya. Oleh karena itu dalam pandangan Darwin, Tuhan telah berhenti menjadi pencipta hewan.
Dalam bidang psikologi, Freud (w. 1941) telah memandang Tuhan sebagai ilusi. Baginya bukan Tuhan yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Tuhan. Tuhan, sebagai konsep, muncul dalam pikiran manusia ketika ia tidak sanggup lagi menghadapi tantangan eksternalnya, serti bencana alam dll., maupun tantangan internalnya, ketergantungan psikologis pada figur yang lebih dominan. Sedangkan Emil Durkheim, menyatakan bahwa apa yang kita sebut Tuhan, ternyata adalah Masyarakat itu sendiri yang telah dipersonifikasikan dari nilai-nilai sosial yang ada. Dengan demikian jelaslah bahwa, dalam pandangan sains modern Tuhan tidak memiliki tempat yang spesial, bahkan lama kelamaan dihapus dari wacana ilmiah.
Tantangan yang lain juga terjadi di bidang lain seperti bidang spiritual, ekonomi, arkologi dll. Tentu saja tantangan seperti ini tidak boleh kita biarkan tanpa kritik, atau respons kritis dan kreatif yang dapat dengan baik menjawab tantangan-tantangan tersebut secara rasional dan elegan, dan tidak semata-mata bersifat dogmatis dan otoriter.

b. Filsafat sebagai Pendukung Agama
Berbeda dengan yang dikonsepsikan al-Ghazali, di mana filsafat dipandang sebagai lawan bagi agama, saya melihat filsafat bisa kita jadikan sebagai mitra atau pendukung bagi agama. Dalam keadaan di mana agama mendapat serangan yang gencar dari sains dan filsafat modern, filsafat Islam bisa bertindak sebagai pembela atau tameng bagi agama, dengan cara menjawab serangan sains dan filsafat modern terhadap agama secara filosofis dan rasional. Karena menurut saya tantangan ilmiah-filosofis harus dijawab juga secara ilmiah-filosofis dan bukan semata-mata secara dogmatis. Dengan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang menempatkan akal pada posisi yang terhormat, maka Islam pada dasarnya bisa dijelaskan secara rasional dan logis.

Selama ini filsafat dicurigai sebagai disiplin ilmu yang dapat mengancam agama. Apalagi filsafat yang selama ini kita pelajari bukanlah filsafat Islam, melainkan filsafat Barat yang telah lama tercerabut dari akar-akar metafisiknya. Tetapi kalau kita betul-betul mempelajari filsafat Islam dan mengarahkannya secara benar, maka filsafat Islam juga adalah sangat potensial untuk menjadi mitra filsafat. Di sini filsafat bisa bertindak sebagai benteng yang melindungi agama dari berbagai ancaman dan serangan ilmiah-filosofis.

FILSAFAT ISLAM DI INDONESIA
a. Masa Lalu
Filsafat Islam belum begitu dikenal di Indonesia, karena memang filsafat Islam baru diperkenalkan ke publik pada tahun 70-an oleh almarhum Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya yang terkenal Falsafah & Mistisime dalam Islam. Dalam buku ini, ia telah memperkenalkan 6 filosof Muslim yang terkenal yaitu al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusyd, setelah sebelumnya ia membicarakan tentang “Kontak Pertama antara Islam dan ilmu pengetahuan serta falsafah Yunani.” Dalam buku ini dijelaskan dengan singkat tentang biografi dan ajaran para filosof Muslim tersebut, sehingga para mahasiswa Muslim menyadari keberadaan filsafat Islam yang sebelumnya hampir tidak pernah diperkenalkan kepada mereka. Filsafat Islam telah melahirkan bukan hanya 6 filosof, sebagaimana yang telah diperkenalkan oleh Harun Nasution, tetapi puluhan bahkan mungkin ratusan para filosof yang tidak kalah hebatnya daripada filosof-filosof yang telah diperkenalkan sebelumnya.
b. Masa Kini
Pada saat ini kita telah menikmati banyak informasi tentang filsafat Islam. Diterjemahkannya buku yang diedit oleh M.M. Syarif yang berjudul, History of Muslim Philosophy secara parsial ke dalam bahasa Indonesia telah memperkaya khazanah filsafat Islam di Indonesia. Tetapi tambahan informasi yang sangat signifikan terjadi setelah penerbit Mizan menerjemahkan karya besar dalam sejarah filsafat Islam yang diedit oleh Nasr dan Oliver Leaman, yang berjudul A History of Islamic Philosophy ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Ensiklopedia Filsafat Islam (dua jilid). Berbagai karya filosofis yang lebih spesifik (misalnya yang membahas tentang pemikiran para filosof tertentu) juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti The Philosophy of Mulla Sadra yang ditulis oleh Fazlur Rahman, yang membahas beberapa aspek dari pemikiran Mulla Shadra, atau Knowledge and Illumination, karangan Hussein Ziai, yang membicarakan secara khusus filsafat iluminasi Suhrawardi.
Namun sejauh ini, informasi ini lebih bersandar pada terjemahan dari karya asing, dan bukan karangan sarjana Muslim Indonesia sendiri. Sedikit sekali karya filsafat Islam yang ditulis oleh para penulis negeri ini. Ada misalnya buku tentang Suhrawardi yang ditulis oleh sdr Amroeni, khususnya kritik Suhrawardi terhadap filsafat peripatetik, atau yang ditulis oleh M. Iqbal tentang Ibn Rusyd, sebagai bapak rasionalisme. Namun tulisan-tulisan tersebut masih bersifat studi tokoh, dan pada dasarnya diadaptasi dari sebuah tesis atau disertasi. Tidak banyak penulis Muslim Indonesia yang menulis buku pengantar terhadap filsafat Islam yang bersifat independen, kecuali Haidar Bagir dengan Buku Saku Filsafat Islam-nya.

KESIMPULAN
Filsafat itu bukan merupakan pengetahuan, tetapi juga merupakan cara pandang tentang berbagai hal, baik yang bersifat teoretis maupun praktis. Secara teoretis, filsafat menawarkan tentang apa itu kebenaran (al-haq). Secara praktis, filsafat menawarkan tentang apa itu kebaikan (al-khayr). Dari dua spektrum inilah kemudian filsafat merambah ke berbagai wilayah kehidupan manusia, sekaligus memberikan tawaran-tawaran solutifnya.

REFERENSI
Ali, Mohammad Daud: Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998
Http://images.ishacovic.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/R1OuXAoKCqMAADL@Vb01/Masa%20Depan%20Filsafat%20Islam.pdf?nmid=70756572. MASA DEPAN FILSAFAT ISLAM, Mulyadhi Kartanegara.

Senin, 22 Februari 2010

Pendidikan Agama Islam

AKAL DAN WAHYU

Pendahuluan
Dalam sejarah pemikiran Islam persoalan hubungan antara akal dan wahyu merupakan isu yang selalu hangat diperdebatkan oleh mutakallimun dan filosof. Isu ini menjadi penting karena ia memiliki kaitan dengan argumentasi - argumentasi mereka dalam pembahasan tentang konsep Tuhan, konsep Ilmu, konsep etika dan lain sebagainya.
Agama islam adalah agama wahyu yang disampaikan malaikat jibril kepada Nabi Muhammad SAW yang berawal dari mekah kemudian ke madinah, proses itu berlangsung selama 23 tahun. Sebagai agama wahyu, komponen utama agama islam adalah akidah, syariah dan akhlak yang bersumber dari Al-quran dan Al-hadist.


Kedudukan akal dan wahyu dalam islam
Kata akal berasal dari bahasa Arab al-‘aql yang artinya pikiran atau intelek (daya atau proses pikiran yang lebih tinggi berkenaan dengan ilmu pengetahuan). Para ahli filsafat dan ahli ilmu kalam mengartikan akal sebagai daya (kekuatan, tenaga) untuk memperoleh pengetahuan, daya yang membuat seseorang dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain, daya untuk mengabstrakkan (menjadikan tidak berwujud) benda-benda yang ditangkap oleh pancaindera (Harun Nasution, 1986:12)
Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya Al-Razi, di dalam bukunya Al-Thibb al-‎Ruhani, menjelaskan tentang manfaat akal dan sumber-sumbernya yang bisa ‎membuat kita kenal rahasia-rahasia besar di dalam alam raya ini. "Sesungguhnya ‎Tuhan Pencipta memberikan kita akal untuk memperoleh dan mencapai ‎kemanfaatan dunia akhirat. Ia adalah anugerah Allah yang terbesar dan sesuatu yang ‎paling bermanfaat bagi kita."
Al-Qur'an sangat menjunjung peranan akal. Terdapat banyak ayat yang ‎menyerukan agar akal dipergunakan secara benar, meski Al-Qur'an tidak pernah menyebutnya dalam bentuk kata benda (العقل), tapi dalam bentuk kata kerja, seperti: ‎1. ‎'aqaluuhu (عقلوه)‎, ‎2.‎ ta'qiluuna‎ (تعقلون), ‎3.‎ ya'qiluuna (يعقلون) ‎, ‎4.‎ na'qil (نعقل), ‎5.‎ ya'qiluha (يعقلوه). Sebagai contoh dapat disebut ayat-ayat berikut:
“Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, Padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?” (Q.S. Al-Baqarah; 75)

“Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Q. S. Al-Hajj; 46)
Dan mereka berkata: “Sekiranya Kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah Kami Termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (Q. S. Al-Mulk; 10)
Dalam pemahaman Profesor Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligene) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah, orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah, setiap kali ia dihadapkan dengan problema dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang ia hadapi.
Bagaimanapun ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berpikir. Dalam Al-Qur’an, sebagaimana dijelaskan di atas oleh ayat 46 dari surah Al-Hajj, pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui kalbu yang berpusat di dada. Ayat-ayat berikut juga menjelaskan demikian:
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Q. S. Al-A’raaf; 179)
Kata-kata tersebut diletakkan oleh Al-Qur’an didalam konteks ayat-ayat yang ‎menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah adalah orang-orang ‎berakal yang merenungi ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran)-Nya, dan bahwa ‎orang-orang yang sesat adalah mereka yang tidak menggunakan akal‎.
Kedudukan akal dalam islam sangat penting karena akal adalah wadah yang menampung akidah, syariah serta akhlak. Kita tidak pernah dapat memahami islam tanpa mempergunakan akal. Jika manusia dapat menggunakan akalnya secara baik dan benar sesuai dengan petunjuk Allah, maka dia akan merasa selalu terikat dan dengan sukarela mengikatkan diri pada Allah SWT. Dengan menggunakan akalnya manusia dapat berbuat, memahami dan mewujudkan sesuatu. Dalam ajaran islam ada ungkapan yang menyatakan : akal adalah kehidupan, hilang akal berarti kematian (Osman Raliby, 1981:37). Namun, kedudukan dan peranan akal dalam ajaran islam tidak boleh berjalan tanpa bimbingan wahyu yang berfungsi meluruskan akal jika ia tersesat. Karena itulah Allah menurunkan petunjuknya berupa wahyu.
Karena begitu pentingnya kedudukan akal maka yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia lainnya yaitu bukan lagi pada tingginya ketaqwaan, tetapi lebih ditekankan pada kekuatan akal, menurut Muhammad Abduh yang dikutip dari Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (1987:48). Dapat ditegaskan, agama yang sejalan dengan akal yaitu islam, bahkan dapat dikatakan bahwa Islam adalah agama yang didasarkan oleh akal. Iman tidak akan sempurna bila tidak didasari oleh akal, Karena akal yang menjadi sumber keyakinan kepada Allah. Dengan melihat alam dan kejadian-kejadian disekitarnya, akal akan sampai kepada alam abstrak (terdapat dalam surat Al-Baqarah:164). Dan akal akan berfikir dari mana semua penciptaan itu, dengan cara ini akal akan menyimpulkan bahwa alam beserta isinya ada yang mencipta, yaitu Allah.
Akal dapat mengetahui dua dasar pokok dalam agama, yaitu: (1) kewajiban mengetahui Tuhan dan (2) kewajiban mengetahui perbuatan baik dan menjauhi perbuatan jahat. Dari dua kewajiban pokok di atas terdapat beberapa yang harus diketahui manusia, terutama pada akal, yaitu kewajiban berterima kasih kepada Tuhan, kewajiban menjauhi perbuatan-perbuatan yang merusak diri sendiri dan kewajiban menolong orang lain.
Akal dapat mengetahui hidup manusia di alam gaib, ini dikarenakan manusia memperoleh pengetahuan tentang kehidupan di alam gaib, walupun tidak secara keseluruhan. Menurut Muhammad Abduh dari kutipan buku Harun Nasution yang berjudul Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah (1987:53), pada hakikatnya akal dapat :
1.Mengetahui Sang Pencipta dan sifat-sifatNya.
2.Mengetahui adanya hidup di akhirat.
3.Mengetahui bahwa kebahagiaan jiwa di akhirat bergantung pada mengenal Tuhan dan berbuat baik, sedang kesengsaraannya bergantung pada tidak mengenal Tuhan dan pada perbuatan jahat.
4.Mengetahui wajibnya manusia mengenal Tuhan.
5.Mengetahui wajibnya manusia berbuat baik dan wajibnya ia menjauhi perbuatan jahat untuk kebahagiannya di akhirat.
6.Membuat hukum-hukum mengenai kewajiban-kewajiban itu.

Walaupun akal memiliki daya yang kuat, tidak berarti akal dapat memperoleh seluruh pengetahuan yang wajib baginya tentang Tuhan dan tentang alam gaib. Oleh karenanya manusia akan berhajat kepada wahyu, yang membantu memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang Tuhan dan masa depan di alam gaib. Wahyu berasal dari kata Arab al-wahy, artinya suara, api dan kecepatan. Disamping itu wahyu juga mengandung makna bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Al-wahy mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan dengan cepat. Wahyu lebih dikenal dalam arti “apa yang disampaikan Allah kepada para nabi.” Dengan demikian, dalam kata wahyu terkandung arti penyampaian sabda Allah kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada umat manusia untuk dijadikan pegangan hidup. Penjelasan tentang cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dan Nabi-Nabi, diberikan oleh Al-Qur’an sendiri. Salah satu ayat dalam surah Al-Syura menjelaskan:
“Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Q. S. Asy-Syuura 51)
Wahyu dalam bentuk pertama kali kelihatannya adalah pengertian atau pengetahuan yang tiba-tiba dirasakan seseorang timbul dalam dirinya, timbul dengan tiba-tiba sebagai suatu cahaya yang menerangi jiwanya. Kedua, wahyu berupa pengalaman dan penglihatan dalam keadaan tidur atau dalam keadaan trance, ru’yat atau kasyf (vision). Ketiga, wahyu dalam bentuk yang diberikan melalui utusan atau malaikat, yaitu Jibril, dan wahyu serupa ini disampaikan dalam bentuk kata-kata.
Firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Adalah dalam bentuk ketiga, dan itu ditegaskan oleh ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam surah Al-Syu’ara dijelaskan:
“Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, – Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), – ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, – dengan bahasa Arab yang jelas.” (Q. S. Asy-syuara; 192-195)
Filosof yang mempunyai akal perolehan lebih rendah dari Nabi yang memperoleh akal material atau hads. Dengan lain kata, filosof tidak bisa menjadi Nabi. Nabi tetaplah orang pilihan Tuhan. Selan¬jutnya filosof hanya dapat menerima ilham, wahyu hanya diberikan kepada Nabi-nabi.

Menurut ajaran tassawuf, komunikasi dengan Tuhan dapat di¬lakukan melalui daya rasa manusia yang berpusat dihati sanubari. Kalau filosof dalam Islam mempertajam daya pikir atau akalnya dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat murni abstrak, sufi mempertajam daya rasa atau kalbunya dengun men¬jauhi hidup kematerian dan memusatkan perhatian dan usaha pada pensucian jiwa.
AI-Farabi, filosof Islam yang hidup di abad kesembilan dan kesepuluh Masehi, telah juga membawa konsep imateri berubah menjadi materi ini dalam falsafat penciptaan alam semesta yang dikenal dengan falsafat emanasi atau pancaran sebagai telah dijelaskan sebelumnya. Tuhan memancarkan akal-akal yang bersifat abstrak murni dan akal seperti dilihat di atas adalah daya pikir.
Ditinjau dari perkembangan masalah materi dan imateri ini, pertanyaan tentang bagaimana wahyu yang bersifat imateri berubah menjadi materi, tidaklah lagi relevan. Dikalangan kaum Orientalis yang menulis tentang Islam, soal wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. ini juga banyak dibahas. Salah satu dari mereka, Tor Andrae, menjelaskan bahwa terdapat dua bentuk wahyu. Pertama, wahyu yang diterima melalui pendengaran (auditory) dan kedua, wahyu yang diterima melalui penglihatan (visual). Tor Andrae membawa ayat Al-Qur’an untuk memperkuat uraian di atas.
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya – Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. – Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu. – Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.”(Q. S. Al-Qiyaamah; 16-19)
Dalam islam, wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, semuanya tersimpan dengan baik dalam Al-quran. Wahyu yang disampaikan malaikat jibril kepada Rasulullah, menurut S. Hossein Nasr seperti yang dikutip oleh Harun Nasution (1986:19) “baik jiwa maupun kata-katanya, baik isi maupun bentuknya” adalah suci dan diwahyukan. Kebenarannya adalah mutlak (absolute). Jika susunan katanya diganti maka disebut penafsiran Al-quran. Penafsiran Al-quran merupakan hasil ijtihad / pemikiran manusia (Harun Nasution 1986:23).
Menurut pendapat Muhammad Abduh, wahyu ada tiga macam:
1.Wahyu yang ditujukan bersama kepada manusia awam dan kaum khawas, dan merupakan sebagian besar dari ayat-ayat Al-Qur’an.
2.Wahyu yang ditujukan hanya kepada kaum awam dan jumlahnya sedikit.
3.Wahyu yang ditujukan hanya kepada kaum khawas dan wahyu serupa inilah yang paling sedikit jumlahnya.
Wahyu memiliki dua fungsi, yaitu:
1.Fungsi pertama sebagai fungsi informasi, dalam hal ini wahyu tidak membawa informasi baru, wahyu hanya memperkuat pengetahuan yang diperoleh akal tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan akhirat.
2.Kemudian yang kedua sebagai fungsi konfirmasi.

Kesimpulan
Akal dan wahyu adalah sokoguru ajaran islam. Namun, harus segera ditegaskan bahwa dalam sistem ajaran islam, wahyulah yang pertama dan utama, sedang akal adalah yang kedua. Wahyulah yang memberi tuntunan, arah dan bimbingan pada akal manusia. Oleh karena itu, akal manusia harus dimanfaatkan dan dikembangkan secara baik dan benar untuk memahami wahyu agar berjalan sesuai dengan garis-garis yang telah ditetapkan Allah dalam wahyu-Nya.

Referensi
Ali, Mohammad Daud: Pendidikan Agama Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1998
Nasution, Harun: Muhammad Abduh Teologi Rasional Mu’tazilah,Jakarta,Universitas Indonesia,1987
Tamankerinduan.blogspot.com
Udhiexz.wordpress.com